RSS

XII IPA 3 : Kelas Terkutuk

18 Apr

Camera 360

Saat pertama kali masuk di kelas XII IPA 3, gue tidak merasakan satu pun keanehan dari kelas itu. Termasuk kelakuan anak-anaknya yang imbisil. Namun di pertengahan semester, hal-hal ganjil mulai terjadi.

Pagi itu, gue masuk ke dalam kelas dan dikejutkan oleh bau tidak sedap. Teman-teman yang dikelas pun histeris ketika melihat gue masuk.

“Jangan masuk! Jangan masuk!” usir Erika.
“Beh! Bau apaan ini?!” Gue langsung tutup hidung.
“Itu lho!” Nafi menunjuk ke belakang papan tulis kami.

Gue terkejut. Setumpuk tokai kelelawar menggunung indah di sana. Bau khas feses mamalia menyebar di kelas kami. Satu per satu anak di kelas mulai semaput.

“Kita tidak bisa diam saja!” Dega berdiplomasi. “Hubungi bu Dev!”

Bu Dev adalah wali kelas kami –sekaligus guru Matematika yang mengajar kelas XII IPA. Kami pun beramai-ramai turun ke kantor untuk mengutarakan masalah tersebut. Awalnya, Bu Dev tidak percaya dan ingin membuktikan langsung dengan masuk ke kelas kami.

15 detik setelah berada di dalam kelas….

“Kenapa jadi bau kandang gini?! Pindah! Pindah!”

Akhirnya Bu Dev mendeportasi kami ke perpustakaan. Pasalnya, sekolah sedang dalam masa pembangunan, sehingga beberapa kelas diruntuhkan dan menyebabkan lokal kami berkurang. Makanya perpustakaan selalu menjadi alternatif untuk kelas cadangan.

Tidak hanya satu hari itu kami mengungsi ke perpustakaan. Selama tiga hari berturut-turut, kami mengendap disana –sampai ibu penjaga perpustakaan marah-marah karena melihat tingkah Dega dan kawan-kawan yang seperti mahluk lepas dari kandang.

Untungnya, Bu Dev turun tangan melapor ke pihak sekolah. Barulah setelah itu kelas kami mendapat perbaikan atap, dan tokai-tokai itu berhasil dihilangkan dari kelas kami. Kelas pun kembali beraroma segar seperti sebelumnya.

Tetapi, itu bukan tragedi terakhir yang menimpa kelas kami. Kejadian yang berikutnya adalah ketika masuk di hari pertama setelah liburan semester. Pagi itu, sebelum pelajaran dimulai, seperti biasa kami sibuk mengobrol membicarakan liburan dan sebagainya, sampai tiba-tiba..

Krak! Gubrak!

“Whoo.. whoaaa!” Anak laki-laki di kelas heboh. Kaki kanan papan tulis kami patah. Papan tulis kami pun jatuh dengan indah ke lantai.

“Gimana ini? Gimana ini?” Roni panik.
“Pakai lakban!” Usul Dega.
“Cari paku! Paku!” Adi menambahkan.
“Yang bener woy!” Anak-anak perempuan di kelas yang berpikiran normal memprotes ide mereka.

Belum selesai masalah tersebut, Bu Titin –guru kimia kami, masuk ke kelas.

“Ada apa ribut-ribut?” Suara Bu Titin yang khas mengagetkan kami semua.
“Papannya bu!” Dega menunjuk ke arah papan tulis.
“Lho, kok bisa patah?”
“Kelas ini…. TERKUTUK!” (Gue lupa siapa yang nyeletuk kalimat sial satu ini.)

Krik. “……” Kelas hening.

“Uwah! Ini pasti gara-gara kamu kemarin buang sampah di deket kuburan!” Adi menuding Dega.
“Kamu kan juga ikutan!” Dega menunjuk Adi balik.

Kelas menjadi heboh, semua mengeluarkan opini mistis dan dikait-kaitkan dengan kutukan.

“Sudah! Kita lanjutkan pelajaran!” Bu Titin menggebrak buku di meja. Kami sekelas langsung diam.
“Iya bu….,” Satu per satu kembali ke tempat duduk. Nyali ciut mendadak.

Atas usul Bu Titin, Nopri mengambil bangku kosong di barisan belakang dan menggunakan sandarannya untuk menopang papan tulis. Setidaknya, papan tulis itu tidak terjatuh lagi. Walau tetap goyang-goyang kalau dipakai buat menulis. Jadi setiap guru yang mau menulis jadi merasa agak horror karena takut kejatuhan papan tulis itu.

Akhirnya setelah melapor ke pihak sekolah, papan tulis kami ditukar dengan papan tulis lab kimia. Kami pikir itu adalah tragedi yang terakhir, ternyata takdir berkata lain.

Beberapa minggu kemudian, teras kelas kami kebanjiran. Kelas kami memang terletak di lantai 2, tapi atap beranda kelas kami bocor, jadinya setiap sehabis hujan lebat, teras kelas kami dipenuhi genangan air. Belum ditambah beceknya tanah di sekitar sekolah. Menyebabkan lantai di kelas kami dipenuhi cap sepatu berlumpur.

Bu Dev yang saat itu berniat mengajar di kelas kami, langsung heboh saat melihat kondisi kelas yang seperti tambak udang.

“Kelas apa ini?! Keluar kalian semua! Ambil pel dan pewangi! BERSIHKAN KELAS KALIAN SEKARANG JUGA!” Teriakan Bu Dev membahana di kelas kami.

“I, iya buu…,” anak-anak di kelas pun langsung melaksanakan perintah dengan baik. Ketika kelas yang lain sibuk menyimak pelajaran, kami bergotong royong membersihkan kelas. Ada yang menyiram lantai, mengepel, menampung air, dan lain-lain. Alhasil, berkat komando Bu Dev –kelas kami berhasil dibersihkan. Akhirnya kami bisa melanjutkan aktivitas belajar seperti biasanya.

Tidak lama setelah kejadian banjir, muncul masalah baru. Pagi itu, dengan kerajinan yang amat sangat seperti biasa, gue hadir pagi-pagi sekali. Masuk ke kelas, ada beberapa ekor teman, dan kami mengobrol. Dan samar-samar… terciumlah.. bau busuk! Bau bangkai tepatnya. Selidik punya selidik, ternyata bau itu disebabkan air kaldu yang kami gunakan untuk praktikum kemarin, sempat tercecer di kelas.

Akibatnya, kelas kami menerima azab nan menyiksa ini. Bu Devita masuk kelas, dan shock mencium bau tidak sedap di kelas. Kami pun merengek-rengek untuk turun ke perpus. (Sebenernya ini alibi untuk menghindari pelajaran Agama =_=) *timpuk sepatu* Akhirnya Bu Devita menggiring kami untuk mengungsi ke perpustakaan.

Oke, ini kedua kalinya kami di ungsikan. Setelah sebelumnya di ungsikan karena tragedi tokai kelelawar, sekarang kami mengganggu ketentraman perpustakaan karena bau busuk yang menyebar di kelas kami. Wajah Ibu Perpus langsung berubah saat tahu kami akan tinggal untuk sementara waktu disana.

Bukan, bukannya ibu itu pelit. Tapi memang anak-anak dari kelas gue ini susah dijinakin. Berisik, bawel, suka berantakin buku-buku, makan di perpus, dan lain-lain. Gak heran kedatangan kami ke perpus adalah awal dari pertanda mimpi buruk.

Untungnya setelah Bu Dev berbincang dengan para pejabat sekolah, kami diizinkan tidak mengikuti pelajaran Agama dan membersihkan kelas. Kelas gue langsung jerit-jerit saking senengnya. =_=

Alhasil, setelah proses pembersihan yang cukup panjang, kelas gue kembali tentram dan damai seperti sedia kala. Bau kaldu yang busuk itu berhasil dihilangkan. Dan kami bisa melanjutkan KBM seperti sedia kala.

Sampai detik ini pun kutukan di kelas gue masih terus berlanjut. Untungnya tidak sampai menyerang kondisi akademis kami, tetapi hanya berupa properti di kelas. Tetapi berkat kutukan itu juga, kekompakaan kelas kami berhasil dipersatukan.

“Terkadang sesuatu yang buruk, tidak selamanya buruk. Tergantung kita memandangnya dari sisi yang mana.”

Rin_Lawliet

———————————————————————————————

(Iklan) Cerita di atas gue masukin sebagai FF di antologi FF terbaru gue. Judulnya SMA #4. Yang diterbitin oleh Penerbit Harfeey. ^_^ Kalo mau pesen bilang ama gue ya, dapet harga penulis soalnya. (Lebih murah). Hoho….

Btw, yang dibuku ama di blog beda dikit ceritanya. Hoho…

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada April 18, 2013 in Kelas XII, Sekolah

 

6 responses to “XII IPA 3 : Kelas Terkutuk

  1. Bedhy Baradae

    April 19, 2013 at 1:33 pm

    Haha, keren Nin 😀 agaknya Buk Dev pemeran utamanya tu, disetiap scene sllu ada ^_^ (y)

     
  2. Eternity Stories

    April 19, 2013 at 2:40 pm

    Scene yang kedua Bu Titin lho… 😛 wkwkwk..
    Tokoh utamanya aku laah.. hehehee..

     
  3. Gusti

    Mei 10, 2013 at 3:30 am

    FF ? Ini Fiksi ?

     
    • Eternity Stories

      Mei 22, 2013 at 2:35 pm

      Kisah nyata.. reality.. my class in senior high school.. :3

       
  4. Rita Nawastiti Nugraheni

    Juli 14, 2014 at 11:46 am

    kisah nyata yang dijadiin FF, gitu?

     
    • Eternity Stories

      Juli 14, 2014 at 2:11 pm

      Kisah nyata yang kurangkum -tepatnya.. wkwk..
      dan ujungnya kujadiin FF juga.. haha..

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: