RSS

#Catatan Anak Asrama

18 Jun

IMG_5537

Aku membuka kedua mataku, rasanya sangat berat. Mungkin itu efek kurang tidur gara-gara semalam aku harus menyelesaikan laporan. Walau enggan, kupaksa tubuh berat ini untuk bangkit dari posisi tidur. Perlahan kesadaranku mulai kembali. Kedua mataku menyipit melihat jam di handphone.

“Hah?! Jam tujuh kurang lima belas menit?!!”

Rasa kantuk seketika menghilang. Aku kuliah pukul tujuh tepat. Sedangkan menyentuh handuk pun belum. Aku langsung turun dari tempat tidur tingkat –nyaris terpeleset gara-gara syaraf motorikku belum tersadar sepenuhnya.

Aku menutupi kepalaku dengan handuk besar berwarna hijau, lalu berlari ke kamar mandi. Di lorong asrama hanya terdapat dua kamar mandi. Kamar mandi terdekat memiliki delapan bilik. Dua di antaranya merupakan WC.

Ketika aku sampai di depan kamar mandi, bau tidak sedap langsung menyebar disana. Perpaduan bau air limbah di selokan bercampur wewangian sabun dan sampo. Aku bergidik ketika melewati rambut-rambut yang rontok di sekitar bilik-bilik tersebut. Namun ketika sampai di depan WC, tenggorokanku tercekat menahan jeritan.

Di lubang kloset ada ‘you-know-what-I-mean’ yang mengambang. Bau tidak sedap yang khas terasa menusuk hidung. Kehilangan selera mandi, aku langsung melarikan diri ke salah satu bilik yang paling bersih dan hanya cuci muka saja.

Kembali ke kamar. Tanpa mengganti pakaian tidur, aku langsung melapisinya dengan jaket hitam bergaris kuning terang dan memakai rok panjang hitam. Setelah memakai jilbab dan memasukkan slide kuliah beserta laptop ke dalam tas, aku langsung berangkat menuju CCR.

Matahari bersinar terik. Panasnya terasa seperti menusuk kulit –terutama jika kau tidak terbiasa dengan iklim panas seperti di Bogor ini. Aku berlari menerjang anak-anak asrama putri yang sedang berjalan bergerombol di depan gerbang. Di kanan-kiri trotoar asrama penuh dengan anak-anak yang sedang berdanus.

“Ayo..! Donat coklat! Donat coklat!”
“Risolnya! Risolnya!”
“Nasi kuning cuma lima ribu!”
“Ada roti goreng! Sisol dan risol mayones, sayur, lada hitam juga ada!”

Aku melewati bau harum dari donat dan risol yang sangat menggugah selera makan pagi. Perutku tiba-tiba sakit –mungkin ini yang disebut “efek lapar tiba-tiba karena melihat jajanan pagi yang hangat”. Namun, demi kuliah jam tujuh, kutahan rasa lapar tersebut.

Setelah melawan serangan terik sinar matahari dan danus menggugah selera, akhirnya aku tiba di CCR. Bangunan megah yang baru beroperasi waktu angkatan 49 ini mirip dengan gedung kuliah di Baranangsiang. Berwarna hitam-putih berbentuk persegi panjang. Gedung ini memiliki depan-belakang yang sangat mirip, tingkat dua dan ada taman kecil di tengahnya.

Ketika sampai kelas –pintu sudah tertutup. Aku mendorong pintu perlahan, mengintip ke dalam –memastikan apakah dosen sudah datang atau belum. Meja dosen belum terisi, hanya ada komti kelas yang sedang berbicara di mic. Lega.

IMG_7295

Aku masuk ke kedalam, disambut oleh hembusan AC yang tidak seberapa dingin. Kelas terasa pengap. Dengan populasi 127 anak yang duduk berhimpitan dan saling berebut oksigen, aku tidak heran kalau AC di ruangan ini semakin tidak berdaya.

Aku duduk di bangku yang sudah di sisakan oleh temanku. Paling depan. Menghadap papan tulis langsung. Tidak masalah duduk di depan –kecuali kau mengidap penyakit ‘tidur ketika dosen mulai menjelaskan materi’.

Kukeluarkan slide kuliah, sambil mendengarkan komti memberikan pengumuman di depan kelas. Tidak lama kemudian sang dosen datang. Sekilas –para dosen terlihat seperti guru SMA. Namun semua itu berubah saat mereka mulai menjelaskan materi kuliah.

LCD disambung ke laptop, layar diturunkan, slide kuliah terpampang di depan kelas. Beliau mengambil mic dan mulai memutar slide sambil menerangkan materi. Para mahasiswa yang menyandang gelar ‘tukang tidur’ langsung terlelap di meja masing-masing. Beberapa masih ada yang bertahan dengan kelopak mata naik-turun.

Mahasiswa yang rajin nan idealis mencatat rapi setiap penjelasan dosen. Mahasiswa cuek mengobrol di pojok dan bagian belakang kelas. Mahasiswa sejenis aku –bertarung melawan rasa kantuk dan tidak mencatat sama sekali. Prinsip sebagian mahasiswa yang suka ngantuk di kelas : yang penting fotocopy catatan temen.

Ketika aku mengeluhkan betapa lamanya jam belajar satu pelajaran di SMA –ternyata di kuliah jauh lebih lama. 105 menit terasa 10 tahun 5 bulan. Jarum jam panjang bergerak lebih lambat dari sebelumnya. Kelopak mata mulai menutup, seiring dengan suara dosen yang perlahan menghilang dari pendengaran.

Gelap. Gelap selama lima menit dan suara seorang teman menyadarkanku.

“Nin, bangun! Udah selesai kuliahnya!”

Mantra yang ampuh. Ketika terbangun, tubuhku terasa sangat segar. Kantuk menghilang dan dengan wajah ceria aku keluar dari kelas.

Lorong kelas dan lobi penuh oleh para mahasiswa yang baru selesai kuliah pagi. Sebagian ada yang langsung mengambil posisi bersandar di dinding, membuka laptop dan bermain internet. Ada yang membaca koran, berkumpul sambil mengejarkan tugas kelompok, atau sekedar mengobrol.

Aku berdiri di antara orang-orang yang berlalu lalang di lobi. Keramaian ini. Suasana di tempat ini. Kupejamkan kedua mata, semua menjadi gelap. Gelap. Dan aku segera kembali ke kenyataan yang sebenarnya.

Dihadapanku berjejer angkot-angkot berwarna biru. Di seberang jalan mobil-mobil pribadi berderet. Orang tua dan saudara ramai di sekitar pelataran asrama. Persis seperti ketika dulu aku menyaksikan mereka –anak anak asrama di antar ke tempat ini.

Barang-barang dimasukkan ke dalam bagasi. Orang-orang sibuk memindahkan barang yang ditumpuk di teras asrama ke dalam angkot mau pun ke mobil pribadi. Kulihat wajah-wajah yang dulu menghabiskan waktunya di lobi mau pun di lorong, kini tengah berbenah meninggalkan asrama.

Ketika senja berganti menjadi gelap, angkot-angkot itu berangkat meninggalkan asrama. Lampu-lampu dikamar terlihat menerewang dari jendela, namun tidak dengan beberapa kamar yang sudah ditinggalkan penghuninya. Korden ditutup dan gelap. Untuk sementara, lampu di kamar itu tidak akan dinyalakan sampai penghuni barunya tiba.

Satu tahun telah berakhir. Begitu cepat. Sangat cepat. Sekejap mata. Ya, itulah yang kuharapkan ketika pertama kali melangkahkan kaki di dalam asrama.

Harapan itu telah terkabul walau tetap meninggalkan beberapa momen yang akan kurindukan. Entahlah. Terkadang penderitaan dan kesulitan itulah yang justru kuanggap sebagai momen yang takkan terlupakan.

Ketika mati lampu dan satu asrama menjerit (tau sendiri kalo cewek jerit tingkat frekuensinya bisa membuat pendengaran terganggu sesaat –bayangkan jika hampir satu gedung yang seperti itu -_-), antri mandi dengan anak-anak lorong dan biasanya dijadikan sarana ngerumpi, jemuran kehujanan, air mati jadi terpaksa kuliah enggak mandi, rela begadang demi laporan dan tugas, sulit nyari sinyal handphone, wifi gedung mati, nonton tv bareng, lari-lari karena jam malam, curhat sama kucing, stress, sampe bolos kuliah karena jenuh. Tahun pertama tidak akan seru tanpa adanya kejadian-kejadian seperti di atas itu. Termasuk kejadian setiap pagi atau sore ketika mau mandi -antrian panjang atau salah masuk WC yang di klosetnya mengambang you-know-what-I-mean… -___- Sepatu kehujanan sampai masuk CCR diem-diem pake sendal, bolos ngaji gedung dan kabur ke gedung lain, atau pura-pura tidur pas di ajak teraweh bareng waktu bulan puasa (yang ini jangan dicontoh) hahaha! XD

Aku tertawa kecil mengingat semua itu. Tapi semuanya sudah berlalu, begitu pun hari ini.

Kuputuskan untuk tidak berlama-lama karena sudah hampir jam malam. Aku berdiri, berjalan keluar dari lingkungan asrama –melewati gerbang yang disiram oleh warna kuning lampu-lampu dijalan. Kupandangi gedung tingkat dua itu sesaat, sambil membayangkan suasana ramai ketika tempat ini belum ditinggalkan. Kini jalanan sudah sepi, tidak kutemukan lagi orang-orang yang berjalan bergerombol menuju Bara atau ke Agrimart. Sudah tiba waktunya. Kami akan meninggalkan tempat ini secara resmi –besok.

Kutarik koperku meninggalkan lingkungan asrama –berjalan menuju Bara –ke tempat kostku berada.

Selamat tinggal asrama. Selamat tinggal TPB. Selamat datang Angkatan 51. ^_^

 

#Notes_End

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 18, 2014 in IPB, Kuliah, Uncategorized

 

15 responses to “#Catatan Anak Asrama

  1. magdalenaulita

    Juni 18, 2014 at 7:08 am

    plis…. ini cerita sedih… nggak rela rasanya harus ninggalin asrama. mau nangis rasanya. huhuhuhu

     
    • Eternity Stories

      Juni 18, 2014 at 8:32 am

      Yup.. ada rasa sedih juga sebenernya..
      Hehe.. but, life must go on..
      Sudah saatnya angkatan 50 angkat kaki dari asrama.. ^_^

      (Seloow.. kan masih ada OR SR kalo mau balik ke asrama.. hehe..)

       
  2. Rahma Nur Hanifa

    Juni 18, 2014 at 2:14 pm

    Hai kakak 😀 Aku angkatan 51 inii hehehe..

     
    • Eternity Stories

      Juni 23, 2014 at 1:15 am

      Ciee.. anak kreator peradaban yang bentar lagi bakal matrikulasi.. haha.. 😀

       
  3. mufikahsf

    Juni 19, 2014 at 4:18 am

    mbak nindyaa, keren mbak postingannya, lebik kerasa baca cerpen daripada curhatan wqwqwq bagus mbak,, udah check out asrama ya, nanti gantian aku yang nempatin hahahaha /digaplok/

     
    • Eternity Stories

      Juni 23, 2014 at 1:16 am

      hahahaa.. iyaa.. iyaa.. tempatin aja gpp.. 😀
      Salam-salam ya buat para kucing di sana.. plus siap-siap aja kalo ada kutu kasur.. titip salam dah pokoknya. wkwk..
      Ini kan curhatan versi cerpen…
      Wkwk…

       
  4. Resty Gessya Arianty

    Juni 19, 2014 at 1:43 pm

    Semoga aku gak ngerasain begitu ya tteh 🙂 Semoga cerita tteh jdi mtvasi bagiku untuk lbih disiplin eheheeh 🙂 Salam aku Gessya dari BIK 51

     
    • Eternity Stories

      Juni 23, 2014 at 1:21 am

      Haha.. sip sip.. disiplin itu bagus..
      Tapi lebih baik lagi ketika agak nyeleneh.. eh#
      Hahaha.. kidding.. yang penting mah disiplin tugas, tapi tetep dibawa have fun biar gak stress.. 😀

       
  5. dimas ramadhan

    Juli 29, 2014 at 2:36 am

    awal” ngakak sih… ujung”nya sedih :”) hallo kaka 50… adikmu datang 😀 *pdhl sebenernya seangkatan -_-

     
    • Eternity Stories

      Juli 29, 2014 at 11:31 am

      Wkwkwk.. waktu ninggalin asrama tu rasanya gimana gituu.. hahha..
      adik generasi.. haha.. kalo angkatan lulus SMA nya bareng…

       
  6. MeilisaDwiN

    Oktober 14, 2014 at 3:28 pm

    kak… ._.
    saya Mei, siswa kelas XII yg bercita-cita menjadi ’52 IPB. Boleh kenalan gaa? /pasang muka imut/ wkwkw

     
    • Eternity Stories

      Oktober 22, 2014 at 7:24 am

      Hai Mei..
      Sip.. sip.. cita-cita yang bagus.. (y) semoga sukses yang UNnya.. dan bisa keterima di PTN impian.. hehe..
      Boleh.. boleh.. 😀

       
  7. Jejak Parmantos

    November 20, 2014 at 6:58 pm

    Eh nanya dong, kok angkatan di IPB pake 51,50,49 dan seterusnya? Jd kl angkatan 50 itu maksudnya angkatan 1950? #ngawur
    Btw, keren blognya… salam blogwalking

     
    • Eternity Stories

      Desember 4, 2014 at 4:25 pm

      salam juga.. 🙂
      Jadi, sejak IPb memisahkan diri dari UI dan resmi jadi kampus sendiri.. itulah asal mulanya angkatan 1 *angkatan paling pertama*
      Dan sejak itu sampai sekarang.. sudah sampai ke angkatan 51.. 🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: