RSS

Journey In Kyoto #7 : Arashiyama – Bamboo Forest

06 Jun

IMG_1382Kamuflase.. jaket ijo.. background ijo..

Kalau ingin menuju hutan bambu Arashiyama, jalan saja lurus setelah melewati togetsukyo Bridge. Setelah melewati cukup banyak tokot-toko yang menjual aneka aksesoris, makanan manis atau pun kuil-kuil yang padat dikunjungi turis, sampailah aku di pertigaan, dimana di pertigaan itu terdapat sebuah toko kecil yang menjual makanan ringan dan minuman, lalu di depan toko terdapat papan yang menunjukkan arah hutan bambu Arashiyama.

Dari toko itu, tinggal belok ke kiri dan masuklah kita kedalam jalan yang lebih kecil. Dari sana pun sudah terlihat ujung-ujung bambu yang menjulang. Tinggal ikuti jalannya saja dan sampailah kita di hutan bambu Arashiyama.

IMG_1324
Mahkota-mahkota merah muda yang sudah bermekaran..
IMG_1327
Musim semi.. jadi rameee banget..

IMG_1330
Pintu masuk..

IMG_1338
Selamat datang di hutan bambu Arashiyamaa.. kalo di kampus gue adanya bambu tidur.. 🙂 (seriously, ada beneraan)

Waktu terbaik mengunjungi hutan bambu ini katanya ketika bulan Desember. Disanalah momen paling pas untuk merasakan sensasi mistis yang dihasilkan oleh hutan bambu. Bayangkan, jalan di tengah malam, salju turun, suhu dingin, pencahayaan temaram dan suara daun-daun pohon bambu yang bergemirisik. Creepy..

IMG_1355
Deretan bambu..

Bambu. Kalau kita lihat mereka hanya dalam petak 3×4 meter, mungkin keliahatan biasa. Di belakang rumah gue juga banyak bambu. Di kampus gue bahkan ada arboretumnya. Lantas apa bedanya dengan hutan bambu Arashiyama?? Pertama : manajemen! Kedua : pemanfaatan potensi. Jepang melihat potensi bambu tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari, ternyata mereka bisa menemukan ‘potensi’ lain yaitu di wisata.

Seperti yang gue bilang tadi, sekumpulan bambu dalam petak 3×4 meter mungkin terlihat biasa saja, tapi apa jadinya kalau mereka ditanam, dirawat dan dipola mengapit jalan kecil yang berundak. Setelah bambu tumbuh tinggi besar dan rapat, terlihatlah ‘kekuatan hutan bambu’ itu. Ada unsur mistik, ketenangan, teduh, dan macem-macem. Waktu disana pun, padahal kondisinya ramai, tapi hanya dengan melihat kerapian dari pohon-pohon bambu itu, dedaunannya yang bergemerisik, rasanya tenaaaang banget.

Satu hal penting yang kudapat dari sini : bahwa hal biasa bisa menjadi luar biasa, tergantung bagaimana kita mengemasnya.

IMG_1358
Selalu ada kuil di Kyoto -bahkan di dalam hutan bambu sekalipun. 🙂

IMG_1363
Jalanan mulai sepi. Oke, gue kesasar.. -_-

IMG_1372
Hikmah dari kesasar : aku nemu path ini. Jadi disini ada belokan kecil, terus disana ada jalan memutar yang di sekelilingnya adalah hutan bambu.

IMG_1384
Spot yang bagus buat foto.

IMG_1397
Get lost in the forest.. Asal jangan di hutan alam aja sih.. -_-

Keluar dari jalan memutar itu. Aku jalan lurus lagi dan tau-tau udah keluar di pinggiran perumahan. Makin bingunglah daku. Semua papan petunjuk pake tulisan Jepang dan entah kenapa -gak ada orang sama sekali disanaaa.

 

IMG_1414
Aku jalan udah jauh banget kayaknya. Nemu taman di permahan, ada papan petunjuk tapi huruf jepang semua dan ada orang sih tapi gak rame.

IMG_1422
Sepi.. lengang. Dan karena takut kesasar makin jauh, akhirnya aku balik ke jalan yang tadi kulewati. Trackback!

Alhamdulillah.. bisa ketemu jalan lain dan kali ini lebih rame. Rasanya lega banget bisa liat turis-turis pada lewat, kerumunan manusia dan jinriksha yang berlalu lalang.

IMG_1425
Jinriksha (Japan traditional transportation aka becak). Mereka tidak hanya menarik becak, tapi juga sebagai interpreter! Aku lihat sendiri sepanjang perjalanan, penarik kereta itu ngasih penjelasan ke penumpang yang dia bawa. Wow..

IMG_1433
Penyebrangan. Pas banget sampe sini, ada kereta yang mau lewat.

IMG_1440
Penampilan luarnya aja keren.. (o_o)

Setelah menyebrang, aku jalan lurus aja tuh. Setelah keluar dari hutan bambu, di bagian sebelah kanan kayak ada pintu masuk gitu. Niat awal sih iseng-iseng penasaran pengen tau itu pintu masuk kemana. Pas di depan loketnya, si penjaga loket ngira aku mau masuk. Jadilah aku ngebeli tiket masuk seharga 500 yen.

IMG_1442
You know?
Ternyata ini pintu belakang buat masuk ke kuil Tenryu-Ji.

Pas pertama masuk, aku langsung dihadapkan oleh pemandangan taman yang.. keren banget. Disana banyak aneka tumbuhan yang –obviously, belom pernah kulihat di Indonesia.

IMG_1445
Perpaduan warna aneka tumbuhan. Kuning, pink, ungu..

IMG_1446
Tamannya pun di tata dengan epik. Dengan rute jalan yang simpel, tapi bisa langsung menampilan setiap bagian di taman.

IMG_1448
Tempat ini, jelas, aku rekomendasiin banget buat kalian yang suka foto-foto bunga atau yang mau foto di taman dengan suasana khas Jepang.

IMG_1454
Tadaa~ Cobalah datang ketika musim gugur.. ini karena masih kerasa hawa musim dingin makanya banyak pohon yang masih meranggas.. hehe..

IMG_1457
Di deket pintu masuk tadi, ada monumen batu ini.

IMG_1459
Garden landscape.

IMG_1490
Disebelah bangunan tadi, ada kolam ini. Selain sakuranya -poin yang bikin aku interest adalah disana banyak patung kodok. Dan di tengah kolam ada piringan kecil dan seperti yang bisa kita lihat.. ada banyak koin disana. Aku lihat beberapa orang melemparkan ke koin mereka ke dalam kolam, entah buat tujuan apa.

IMG_1491
Say hello from pink cherry blossom

IMG_1504
Hang in there.. (jangan ditanya kayak apa perjuangan gue ngambil foto ini -_-)

IMG_1509
Penataan yang keren..

IMG_1528
Bagian belakang.

Jadi dari kolam kodok itu, kalau jalan memutar, sampailah di spot ini. Buat yang hunting foto sakura, belive me, this what are you looking for. Dibagian belakang ini banyak deretan pohon sakura. Banyak warga Jepang yang datang mengenakan kimono mereka, bahkan turis pun sampai ada yang menyewa kimono.

IMG_1516
Sakura everywhere

IMG_1532
“Teman-teman, kalian dapat salam dari Negeri Sakura..” (Niru adegan Genta di 5cm -dengan sedikit editan) Hehe.. 🙂

Setelah puas mengelilingi area pohon sakura, aku pun menaiki undakan menuju dataran yang lebih tinggi.

IMG_1540
Dari sini, kalian bisa mengambil foto dengan cakupan lebih tinggi dan lebih luas.

IMG_1542
Terlihat jelas. Pohon-pohon sakura yang mengitari area tersebut, lengkap dengan aktivitas orang-orang.

Setelah mendapatkan foto yang kuperlukan, berkeliling dan melihat waktu yang terus berjalan, aku pun turun kembali dan jalan mengikuti jalur yang belum ketelusuri.

IMG_1566
Jalur ini agak sepi.

Beberapa papan interpret yang kufoto.

IMG_1565
Rhododendron dilatatum. Tumbuhan ini umum dibudidayakan sebagai tanaman hias dan ornamen taman. Beberapa bagiannya juga memiliki kegunaan sebagai obat-obatan

IMG_1621
Japanese Pieris (Pieris japonica) is an upright evergreen shrub with an extended period of ornamental interest in late winter and early spring. Kesulitan menterjemahkan : ada google translate. Yak, lanjuuut.. <- bukan ahli flora hehe

Setelah jalan lurus mengikuti jalan tadi, sampailah kita di salah satu kuil bersejarah yang diakui sebagai UNSECO World Heritage Site, yaitu Tenryu-Ji Temple.  Kuil ini dikelilingi oleh pohon cemara dan ada danau di sampingnya dengan pinggiran yang disusun batu-batu.

Tenryuji was built in 1339 by the ruling shogun Ashikaga Takauji. Takauji dedicated the temple to Emperor Go-Daigo, who had just passed away. The two important historic figures used to be allies until Takauji turned against the emperor in a struggle for supremacy over Japan. By building the temple, Takauji intended to appease the former emperor’s spirits. (Sumber : Kyoto Travel)

IMG_1603
Sangat ramai dan padat pengunjung.

IMG_1571
Kalau musim gugur, di pinggir danau ini daun-daun pohon akan berubah menjadi merah.
IMG_1582
Ikan koinya gede-gede banget. Coba tebak.. itu koi jenis apa aja.. (efek kuliah Ikan Hias dan Akuaskap)
IMG_1594
Ini bagian dalam kuil. Kalau mau masuk ke bagian dalam, kena entrance fee 100 yen.

Puas mengitari Tenryuji Temple, aku pun trackback menuju pintu masuk tadi. Sekeluar dari sana, aku melanjutkan perjalanan dan akhirnya masuk ke dalam hutan bambu lagi. Kali ini aku mengambil rute yang berbeda dan sampailah di bagian lain dari hutan bambu. Ini adalah rute hutan bambu menuju Sagano Romantic Train.

IMG_1636
Langit cerah berpadu oleh tajuk pohon bambu yang rapat.
IMG_1665
Cahaya yang berusaha masuk di antara celah-celah pohon. Jalanan yang terasa lengang dan sepi. Ketika angin berhembus hanya gemerisik dedaunan yang terdengar. >_<
IMG_1644
View lain dari hutan bambu.
IMG_1638
Mulai ramai lagi. Bisa kebayangkan ribetnya ngambil foto pre-wedding disini? Wkwk..

Oh ya, di pertigaan dari jalan ini nanti. Ada dua jalan ke kanan sama ke kiri. yang ke kiri itu jalan keluar, kalau ke kanan yang turun kebawah itu menuju Sagano Romantic Train. Kalau yang ke kanan jalanannya ke atas itu menuju Okochi Sanso. Okochi Sanso Villa yaitu kediaman milik aktor drama Dejiro Okochi (1898~1962). Didalamnya juga terdapat taman  Kaiyushiki Shakkei Teien yang ditanami banyak pohon maple dan ceri, serta tanaman-tanaman lainnya. Didalam juga nanti kita akan disuguhkan teh hijau dan cemilan lho~
IMG_1744
Dari pertigaan, langsung belok kanan cari jalan yang menuju ke atas. Didepan pintu masuk ada loket. Harga tiket masuk 1000 yen. Udah dapet peta, kupon buat ditukerin minum teh dan satu buah gift.

IMG_1735
Tada.. kupon minum teh dan peta beserta giftnya..

IMG_1684
Selama disana bakal banyak petunjuk jalan, so,jangan khawatir nyasar. Wkwk..

Sebenernya opsi kita sih mau minum teh dulu atau jalan-jalan dulu. Tapi lebih enak capek-capek setelah keliling baru minum tehkan? Makanya aku pun memutuskan untuk jalan-jalan dulu.

IMG_1687
Rute pertama, menaiki undakan ini.

IMG_1689
Melewati gerbang pintu masuk.

IMG_1692
kalau mengikuti jalan, sampailah di salah satu sightseeing spot.

IMG_1697
Tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi kita juga bisa menemukan kediaman sang aktor dahulu.

Aku pun meneruskan perjalanan. Jalanan berliku, naik-turun (maklum, bukit), kalau enggak biasa nanjak ya ngos-ngosan juga. Untungnya ada beberapa spot untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan.

IMG_1707
Walau ditumbuhi banyak tanaman, namun taman ini terawat banget. Jalanannya pun rapi dan diberi banyak papan petunjuk sehingga pengunjung tidak khawatir tersesat.

IMG_1708
Kebayangkan epic nya taman ini kalau musim gugur? Background berwarna kemerahan dari daun-daun pohon, berpadu dengan warna hijau daun lainnya.

IMG_1716
Ini juga merupakan salah satu sightseeing spot. Disini kita dapat melihat pemandangan pegunnungan yang berwarna-warni. Ketika musim semi, pegunungan ini akan dihiasi warna merah muda pucat sakura dan merah ketika musim gugur. Notes : kalau kesini pas awal April, dingin banget, yang gak kuat dingin kudu make jaket atau bawa sarung tangan/syal. -_-”

IMG_1721
Perjalanan turun dari atas bukit

IMG_1722Sightseeing spot lain : pemandangan perkotaan dan pegunungan.

IMG_1730
Jalanan yang disusun dan tertata rapi, ditambah lagi suasana yang sepi dan angin dingin yang berhembus, tidak hanya menimbulkan perasaan tenang dan damai, tapi juga nyaman.

Oke, lelah setelah mengitari taman, sekarang waktunya tea time! Jadi dideket pintu masuk taman ada kedai tuh, disana kita masuk aja, nanti staffnya akan meminta kupon kita. Setelah itu dihidangin deh camilan sama teh hijaunya.

IMG_1742
Didalam kedai.

IMG_1741
Teh hijau dan cemilannya.

Oke, ini adalah satu satu efek buruk kebanyakan mengonsumsi teh di Indonesia. Mostly teh di Indonesia itu manis dan akan aneh kalau kamu menghidangkan teh ke tamu tanpa gula. Termasuk teh hijau -semuanya berasa manis di Indonesia. Kebawa mindset dari sanalah, ketika aku meneguk teh hijau di cawan itu, aku langsung kayak orang kesedak, mimik mukaku aneeeh banget, kayak abis nyeruput sejenis ramuan.

Sepet banget!! >_< Buru-buru aku gigit tuh kue, untung rasanya manis. Jadilah aku berhasil menghabiskan teh hijau itu dengan kombinasi : satu teguk teh hijau + 1 gigitan kue. Supaya rasanya jadi agak-agak manis. Btw, mungkin memang lidahku yang belom biasa. Buktinya bukan cuma teh hijau, teh botolan di vending machine juga paiiiit. >_<

Jujur, aku kangen es teh manis. Huhu.. porsi warteg, yang 3 ribu rupiah tapi dapet gelas gede. Huhu..

IMG_1679
Setelah itu, Aku pun meninggalkan Okochi Sanso Villa.

Dari Okochi Sanso Villa, aku mengambil rute jalan yang kebawah. Itu jalanannya bener-bener turunan (gak kebayangan baliknya entar harus nanjak lagi). Di ujung jalan, ada stasiun lagi. Itulah stasiun untuk keberangkatan Sagano Romantic Train.

IMG_1747
Ini stasiunnya. Harga tiket 620 yen untuk dewasa.

Sayangnya pas aku sampai, ternyata tiket sudah sold out (jelaaaas, musim turis), jadi trip kali ini, aku tidak bisa naik Sagano Romantic Train. Sebenernya masih banyak lagi tempat yang bisa dikunjungi di Arashiyama, tetapi mengingat waktu dan aku masih harus ke Higashiyama, akhirnya aku akhiri perjalanan disini.

Aku pun trackback ke atas. Hufh.. nanjaak lagi.. >_<

Dari pertigaan tadi, aku mengambil jalan lurus dan sampailah di taman yang bagus banget.

IMG_1759
Ini taman lho..

Tetapi sayangnya aku malah kesasar, jadi balik lagi ke pertigaan dan ambil rute awal. Jalan melewati hutan bambu lagi, sampe ketemu kuil tadi, terus lurus saja dan keluar dari hutan bambu, sampai ke jalan raya besar. Sebelum berjalan kembali ke stasiun, aku menyempatkan makan camilan gurita goreng dan es serut.

Oke, energi sudah teisi kembali. Saatnya kembali ke Arashiyama Station dan menuju ke Higashiyama. ^_^

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2016 in International, IPB, Jalan-Jalan, Jepang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: