RSS

SURILI 2016 – Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Riau

27 Jan

_dsc0420

Setelah terbang ke Timur, di tahun 2016 gue dikasih lagi kesempatan buat terbang ke Barat. Gak jauh-jauh dari tempat kelahiran gue, masih dalam satu pulau yang sama dengan tempat gue lahir. Yaitu ke RIAU! Dan inilah ekspedisi terakhir gue di kepengurusan Himakova sekaligus di KSHE.

Surili 2016 – Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Riau.

Dini hari, kami tim Surili 2016 sebanyak 50 orang berangkat menuju bandara Soekarno Hatta. Setelah melakukan rangkaian check in yang riweuh, akhirnya kami naik pesawat di pagi hari dan sampai di Pekanbaru, Riau sekitar pukul delapan pagi.

dscn6358
Tim Surili 2016

Setelah keluar dari bandara, kami langsung naik ke dalam bis. Bis dibagi dua menjadi tim ekologi dan tim sosek. Dimana saat itu gue tergabung dalam tim ekologi –tepatnya bagian fotografi konservasi (lagi).

Setelah naik bis selama kurang lebih dua jam. Kami turun di area perkebunan, lalu berganti alat transportasi menjadi truk. Dari truk kami menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, melewati jalanan bergelombang yang dikelilingi oleh tebing batu. Namun lama kelamaan pemandangan disekeliling kami berubah menjadi deretan pohon dan semak-semak, truk melewati beberapa anak sungai dan sampailah kami di lokasi camp Sai Tapi.

img_5328
Dokumentasi perjalanan 🙂

Lokasi ini jelas jauh-jauh-jauh lebih baik dibandingkan ketika dulu gue ekspedisi di Kore. Tempat tinggal terbuat dari rumah semi permanen, ada aula dan saung yang cukup besar untuk dijadikan tempat tidur cowok. Disebelah rumah kayu tempat tidur anak cewek ada dapur yang lengkap banget alat masaknya. Dibawah camp ada aliran sungai yang jernih beud. Air. Air beneran. Lega banget rasanya liat air berlimpah ruah kayak gitu (flashback kondisi kering jalur Kore di Tambora). Bahkan ada kamar mandinya. Oh iya, yang beda banget nih dari Surili Tambora, di Surili SMBRBB ini lagi gak bulan puasa. Hehe..

Oke. Ini udah lebih dari cukup buat gue.

dscn0733
Tempat makan, tempat ngumpul

Setelah menurunkan berbagai barang, istirahat sejenak dan anak-anak cewek masak di dapur, kami pun makan malam bersama lalu ada briefing. Keesokan paginya, survey masing-masing Kelompok Pemerhati. Di hari survey gue ikut kelompok pemerhati Burung.

Jalur yang disurvey KPB itu naik ke atas bukit. Jadi pertama kita turun dulu melewati sungai, masuk kedalam hutan, naik terus.. naik terus.. kalau berhenti tapi keliatannya masih sepi, lanjut jalan lagi ke atas. Hasil dari marathon tiap pagi selama seminggu emang bikin gue jadi gak gampang capek, tapi masalahnya bukan disana. Tapi dari mahluk kecil menggeliat di tanah yang tiba-tiba nempel di ujung sepatu lapang gue.

“Aargh.. pacet!” (Histeris : mode on)

Emang sih, gue belom jadi korban pacet pas ikut KPB. Tapi cukup liat anak-anak itu pulang bersimbah darah habis digigitin pacet aja udah bikin gue gak fokus pegang kamera. Sore hari, gue masih ikut KPB, jalurnya melewati jalan bekas mobil, kondisi tanah dan tajuk cenderung lebih “aman” (enggak ada pacet). -_-

img_3535
Survey KPB

Kalau di Tambora dulu kering banget, sekalinya mendung dikira mau ujan badai ternyata cuma awan lewat doang. Disini, kalo pagi kabutnya sampe nutupin bukit-bukit yang mengapit camp kami, frekuensi hujan pun sangat sering, kondisi yang lembab menyebabkan jemuran sulit kering.

dscn0735
Entahlah tunggu berapa hari sampai baju-baju itu kering

Sayangnya waktu gue di ekologi gak lama. Empat hari kemudian, gue harus pindah ke tim sosek. Dihari terakhir sebelum gue pindah ke tim sosek, gue ikut Kelompok Pemerhati Mamalia. Jalur yang dipilih oleh KPM tidak hanya melewati banyak anak sungai, tapi juga merupakan lokasi yang pacet-able. -_- enggak keitung lagi berapa banyak pacet yang nempel di boots, bahkan berhasil nempel di badan dan kaki gue.

Di ekologi ini susah banget dapet sinyal. Kalau dulu di Kore gue cukup naek ke atas bukit udah dapet sinyal, disini harus naek sampe lokasi pengamatan KPM dan KPF yang letaknya di atas banget, baru dapet sinyal. Overall di tim ekologi ini asik, rame, apalgi kalo udah liat tim piket masak-masak. Jadi tau kalau si A jago bikin sambel, si B jago masak, si C hobi nyuci piring, si D paling susah dibangunin buat piket, dan laen-laen.

dscn0732
Abis pengamatan ^_^

Sedih juga pas pergi dari Sai Tapi. Baru empat hari. Gue belum “liat apa-apa” disana.

Tapi ya sudahlah, gue emang ditakdirkan buat merasakan semua suka-duka tim ekologi dan tim sosek. Hehe..

Gue turun dari lokasi camp Sai Tapi naik truk bareng adek tingkat 51 yang juga pada mau balik ke Bogor. Dari truk, pindah transportasi naik bis. Gue turun di pertigaan yang dulu memisahkan bis tim ekologi dan tim sosek. Disana Giga (KSHE 50) –salah satu tim sosek, dateng nganterin anak-anak 51 yang mau balik ke Bogor juga, sekaligus ngejemput gue.

Setelah itu gue naek mobil bareng Giga menuju desa Tanjung Belit. Didesa Tanjung Belit, baru banget nyampe, sapa menyapa dengan anak-anak Kelompok Pemerhati Gua dan Ekowisata, gue udah harus lanjut ke desa Aur Kuning.

Jadi tim Sosek saat itu ada Giga, Lilit, dan Abah. Plus gue. Kiriman dari Indha buat perwakilan fotografi. Dengan membawa carrier dan kardus-kardus, kami turun ke pinggir sungai, menaikkan barang ke atas kapal sampan, lalu kami ikut naik. Oke.. first time in my life.. naek sampaaan~

_dsc0051
OTW desa Aur Kuning

Ada dua sampan. Gue bareng sama Abah. Perjalanan dari Tanjung Belit ke desa Aur Kuning menggunakan sampan memakan waktu dua jam. Ditengah jalan hujan pula. Benar-benar luar biasa.

Sampan berhenti di labuhan Aur Kuning. Kita nurunin barang-barang terus naik ke atas. Kita tinggal di rumah yang disediakan pihak sana. Abis itu kita keliling desa Aur Kuning. Desa Aur Kuning terbagi menjadi dua wilayah yang dipisahkan oleh jembatan kuning besar. Kalau dilihat dari viewpoint yang tepat, desa ini punya potensi arsitektur yang unik. Rumah-rumahnya dipetak rapi, dan banyak lokasi yang cocok buat foto model alam. Beneran. Hehe..

_dsc0140
Desa Aur Kuning

Hari-hari gue di Surili memang lebih banyak dihabiskan di tim sosek. Gue ikut mereka keliling wawancara tokoh masyarakat, ikut Lilit arisan (dan gue ketiduran pas lagi ditengah acara -_-), tiap hari makan telor bulet dan ikan disambel + sayur daun singkong, si Giga bela-belain nyari sinyal sampe tiap hari naik ke menara sinyal (jadi ada lokasi di Aur Kuning yang penduduk setempat namai menara sinyal, bentuknya bukan menara, tapi karena lokasinya tinggi makanya dibilang “menara sinyal”.

_dsc0131
Ikut tim sosek wawancara

Kalo lagi ada waktu luang, biasanya gue ngehabisin waktu dengan nonton Walking Dead Series sampe khatam semua season, pas udah abis gue tonton lagi dari episode 1 season 1 wkwkwk.. Tapi kadang gue lebih suka jalan-jalan sendiri. Nyari objek foto/video, ketemu penduduk, dengerin cerita-cerita mereka, terus balik ke rumah menjelang maghrib.

_dsc0093
Masyarakat lokal desa Aur Kuning

Sebelum pulang, kami sempat datang ke lokasi Lesung Batu. Perjalanan menuju kesana hampir satu jam, dan jalanannya ekstrem banget. Air sungainya dangkal dan berbatu jadi sampan kami sering nyangkut. Tapi perjuangan menuju lokasi dibayarkan oleh segarnya air Lesung Batu dan makanan khas yang dimasak disana lalu kami makan siang bersama-sama. Pulang dari Lesung Batu, malamnya Lilik, Giga dan Abah mengadakan FGD dengan para tokoh masyarakat disana.

_dsc0410
Lesung Batu

Hari-hari di Aur Kuning berlalu. Gue, Giga, Lilit dan Abah mengangkut kembali barang-barang ke atas sampan, lalu meninggalkan Aur Kuning dan pulang kembali ke desa Tanjung Belit.

Hari-hari di Tanjung Belit hanya gue isi dengan menyortir foto/video, selain itu gue mencoba menyibbukan diri dengan main game di laptop tapi tidak berhasil! Gue coba keliling desa, mencoba mengambil gambar-gambar yang bisa gue jadikan bahan untuk pembuatan video ekspedisi nanti.

_dsc0223
Sebelum pulang ke desa Tanjung Belit.. foto dululah sekali hehe

Hari demi hari berlalu dan tibalah waktunya kepulangan. Yeaaay… lama gak ketemu sama anak-anak dari tim ekologi. Kami makan siang dulu sebelum ke bandara. Setelah itu check in, naik keatas pesawat dan kami pun sampai kembali di Bandara Soekarno Hatta. Perjalanan menuju kampus IPB Dramaga tidak banyak yang bersuara, semuanya terlelap karena lelah perjalanan jauh.

Selesai. Ekspedisi di Riau sudah selesai. Kami sudah pulang. Tapi cerita-cerita ini akan selalu gue kenang.

Oke, jadi itu cerita gue –pengalaman gue ikut ekspedisi Surili di Riau. Yang mau tau pengalaman gue ekspedisi di Gunung Tambora, bisa baca di post sebelumnya. Makasih ya udah mampir.. see you!

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 27, 2017 in IPB, Jalan-Jalan, KSHE

 

2 responses to “SURILI 2016 – Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Riau

  1. Alaik Zhilalul Haq Albaki

    Februari 6, 2017 at 9:46 am

    peningkatan ka.. ada foto kakaknya wkwkwk
    hewan nya kurang ….

     
    • Rin Lawliet

      Februari 7, 2017 at 3:30 pm

      Owh jelas.. haha.. dikitlah ngeksis..
      yang satwa dikit soalnya saya cuma empat hari di Ekologi,
      kalo pun ada fotonya gak layak publish wkwk

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: