RSS

Review Novel “Cinta di 7 Keajaiban Dunia” – 2014

16 Des

Berkat event TAT Season 4 yang di selenggarakan oleh Mbak Ariny NH, gue dan keenam peserta terpilih lainnya mendapat challenge untuk meremake tujuh novel karya Mbak Ariny. Oke, inilah novel yang harus gue remake, judulnya “Cinta di 7 Keajaiban Dunia”.

25437106_1701263513277224_361152642_n

Cover cetakan kedua, edisi lama

Novel ini ditulis oleh Mbak Ariny NH dan enam penulis lainnya. Jadi sebenarnya ini novel keroyokan. Rilis di tahun 2014 dan memiliki garis besar tentang sepasang calon pengantin yang ditugaskan meliput tujuh kejaiban dunia. Mereka -rencanya beberapa bulan lagi melangsungkan pernikahan. Devi diperingatkan sahabatnya Ivana tentang mitos arca singa urung di Candi Borobudur, dia mulai mimpi-mimpi cemas tuh. Sesuai perkataan Ivana, setelah dari Candi Borobudur, ada saja konflik yang membuat hubungannya dan Dimas merenggang. Apakah mereka benar-benar akan berpisah sesuai mitos arca singa urung?

Well, jawabannya ada di cover. “Mitos cinta yang tak jadi nyata”. Artinya, apa pun yang terjadi, kedua tokoh ini pasti akan kembali bersama. Wkwkwk. Di versi remake, tagline itu gue hapus.

[WARNING! SPOILER CERITA!]

Gue akui novel ini mempunyai premis cerita yang menarik, terutama pemilihan settingnya di tujuh negara yang berbeda (salah satunya Indonesia). Setting yang berani, tetapi jumlah halamannya terlalu sedikit, sehingga rasanya banyak hal yang tidak dieksplorasi dan kesannya setting itu hanya “pelengkap” belaka.

Let’s start with.. Alur cerita. Untuk novel dengan setting yang bombastis, alur ceritanya sangat sederhana. Alur maju dengan sesekali narasi flashback. Walau ada plot twist, jangan harap gue terkejut dengan itu. Plot twist (atau apa pun yang penulis harapkan itu sebagai plot twist), rasanya flat alias datar banget.

Alur yang sederhana tidak di dongkrak oleh konflik yang rumit, malah sama aja sederhananya. Saking sederhananya gue seperti disuguhkan alur konflik sinetron yang berkali-kali di putar di televisi.

Hal-hal yang membuat gue butuh obat paramex :  

  1. Devi yang statusnya editor cerpen di beri random job oleh bos besar untuk menggantikan rekannya meliput artikel parawisata. Pertama, itu perusahaan majalah yang besar (gue bayanginnya udah sekelas National Geographic ya), apa mereka bener-bener kehabisan orang sampai seorang editor cerpen yang turun tangan meliput tentang parawisata? Kok kayaknya si bos besar (yang sampai ending gue gak tahu siapa nama aslinya) ini, kesannya iseng banget.
  2. Dimas posisinya juga editor cerpen di perusahaan, tapi kenapa dia yang ditugasin ganti jadi fotografer coba?? Kehabisan stok fotografer banget?? Tidak dijelaskan secara rinci kemampuan Dimas, cuma beberapa kali si Devi yang memuji hasil jepretan Dimas. Well, gue bukan fotografer profesional, tapi temen-temen gue juga bisa nyebut hasil foto gue bagus. Padahal belum tentu “bener” fotonya. Itu yang gue maksud. Tidak dijelaskan secara rinci “kemampuan” kedua orang ini sampe dipaksa menggantikan dua rekan mereka. Siapa pun si bos besar itu, sumpah, iseng banget. -_-
  3. Inkonsisten karakterisasi. Devinta Anggraini –berpenampilan bak Inces Syahrini. Di awal cerita banget, seakan Devi itu digambarkan sosok yang sosialita dengan segala gemerlap hidupnya, tapi di tengah cerita ngomong gini
    Di Malioboro aja deh, di jalan Dagen. Di sana banyak hotel lumayan murah. Jadi kita bisa ngirit. Lumayan kan bisa kita pakai buat yang lain?” jawabku. – hal 37”. Ini sebenernya si Devi petualang ala backpacker atau mbak-mbak sosialita sih? Pesangon banyak juga dari perusahaan. #mendadakngirit
  4. Inkonsisten setting. Dari awal, kesannya penulis mau meletakkan setting di musim dingin. Liat aja perlengkapan yang Devi borong di Plaza Blok M

    Baju hangat, kaos lengan panjang, syal, sepatu, topi, kacamata (yang lo pake di bab 1 itu kacamata juga kan?? Mau beli berapa banyak sih), snack, perlengkapan makeup (buat apaan?), perlengkapan mandi, handuk, dan masker – hal 23.

    Tapi di bab akhir, memasuki negara Italia, si Ivana ngomong gini,

    ..Kita sekarang mau ke Italia, kita bisa pakai baju seksi tanpa harus dicibir seperti di Indonesia kamu malah mensia-siakan saatnya bebas berekspresi – hal. 148”.

    Seksi?? Maksudnya pake rok mini dan baju you can see my whole body gitu?? Di musim dingin?? Itu Italia lhoo, gak kebayang musim dingin pake baju gituan. Bisa kejang-kejang hipotermia dah -_-

  5. Pekerjaan yang tidak profesional. Seniat itukah si bos besar nugasin Dimas dan Devi sampai DP Pre Wedding yang di cancel di ganti ama perusahaan. Kalau gue jadi bos, bodo amat dah.. bisa defisit duit perusahaan.
  6. Tinggal ngekos atau dirumah sih?? Di awal katanya Devi tinggal di kos,  tau-tau ada adegan “Aku segera berlari kecil ke mobil Ivana setelah pamitan pada Mama Papa – hal 36”.
  7. Bisa telpon-telponan dan SMS dengan mudah antar negara. Gue curiga, jangan-jangan penulis lupa biaya telpon/sms internasional itu mahal ajigile.
  8. Sebenernya, tour guide di luar negeri pada fasih Bahasa Inggris, jadi gak perlu repot-repot pake bahasa ibu mereka buat percakapan (kecuali si tokoh itu memang sengaja mau pamerin skill bahasanya -_-). Kalau ngobrol sama local people, baru ‘kadang’ harus pake bahasa lokal mereka.
  9. Banyak banget plothole (hal-hal yang tau-tau nongol dan gak dijelasin sama penulis sampe cerita tamat). Kayak yang ini nih.

    “―Dia baik-baik saja, dia harus diperhatikan, hatinya sedang tak jernih gara-gara pengaruh Ivana. ― Hal 100”

    Ini si Dimas tau darimana coba Devi kena pengaruh Ivana. Padahal sebelumnya Devi gak cerita apa pun soal itu ke Dimas kalo sumbernya dari Ivana. Dimas cuma ngerasa heran kenapa Devi begitu berambisi ama mitos-mitos itu. Tapi Devi gak pernah bilang itu asalnya dari Ivana dan dia ketakutan sama itu. -_-

    Plothole lainnya : si Ivana ini tiba-tiba nongol di Paris dengan cepat. Padahal si Devi aja udah curiga kenapa Ivana bisa cepet banget sampe di Paris. Sampai akhir gak dijelasin kenapa Ivana bisa tiba dengan cepat. Gue curiga, jangan-jangan penulis berniat membuat si Ivana ini ngebuntutin Dimas-Devi dari awal, tapi lupa ngejelasin. Wkwk..

  10. Nyari orang di Paris itu gampang. Non sense. Di peak season, Paris itu bejubel banget. Sementara di scene ini, kesannya nyari Devi semudah membalikkan telapak tangan. Tanya orang, kasih ciri-ciri, langsung ketemu. Padahal normalnya, para turis belom tentu memerhatikan kondisi orang-orang di sekitar mereka. Kalau pun memerhatikan : sekhas apa sih penampilan Devi sampai sosoknya melekat banget? Agak gak logis menurutku.

    “Gue sempat kehilangan jejak Devi, namun dengan cepat gue mencari informasi kemana arah langkah-langkah Devi. Ada seorang pemuda yang mengenali ciri-ciri Devi, hingga dengan mudah gue bisa menemukannya. – Hal 101”

Selain hal-hal yang bikin kening gue berkerut barusan, ada beberapa lagi yang ingin gue bahas. Penulis di sini menggunakan POV 1. Narasi bergantian antara Dimas dan Devi. Tapi pergantiannya kasar banget, kayak yang di halaman 59. Tau-tau pindah aja, gak ada aba-aba mau pun jeda. Apalagi gaya penuturan narasi Dimas dan Devi sama banget. Bikin reader yang kurang peka bisa kebingungan.

Selain itu, gue ngerasa tokoh-tokoh di novel itu disetir banget. Dari awal aja keliatan dari Devi Dimas itu dipaksa banget buat touring keliling tujuh dunia -tanpa pertanggungjawaban skill yang mumpuni di bidang tersebut. Banyak kejadian yang somehow dipaksakan terjadi, tapi tidak ada penjelasan yang kuat.

Reaksi para tokoh di novel ini juga tidak lazim menurut gue. Misal nih, si Dimas ngeciduk  Rifky dan Devi tidur bareng, alih-alih ngamuk, nih cowok malah ngefoto mereka berdua, terus ditinggal. Responnya CEWEK banget. Padahal itu COWOK.

Sama halnya dengan sosok Devi yang berulang kali mengumbar dirinya sebagai cewek strong, tapi dependent banget sama Dimas. Kontradiksif sekali. Sifatnya over posesif pas Dimas digodain mbak-mbak resepionis, tapi pas giliran berantem ama Dimas ngomongnya gini “Kalau emang jodohku sama Dimas pasti dipertemukan lagi – hal 107.” -_-

Berantemnya gak dewasa banget. Nyari pengganti Dimas pun seenak ngupas kulit kacang, tinggal calling dan satu tokoh tak berkualifikasi dalam fotografi hadir di Paris untuk membantu sang Devi menyelesaikan pekerjaannya. Dimas kemana?? Sibuk nyamar nguntitin Devi. How proffesional they are! 

Tokoh-tokoh disini somehow bertindak sangat konyol. Bukan buat melucu yang jelas. If does, it doesn’t made me laughed at all. Yang kayak gini contohnya, “Tapi sebenarnya gue selalu mengikuti langkah Devi, gue menyamar sebagai orang Timur Tengah. Untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya. – Dimas, Hal 117”. 

Ngapain siiih nyamar jadi orang Timur Tengah? Gue bayangin nih orang pake jubah sama sorban dah, plus kacamata item. Padahal pake masker, topi ama ganti baju aja udah gak ketahuan kok. Lu niat banget dah.

Ada teknologi bernama HP, tapi Ivana dan Rifky harus banget diskusi di lobi hotel? Lebih aman lewat HP kan?? Oh iya, kalo gak diskusi di lobi hotel nanti Dimasnya gak bisa nguping. -_- Just like I said, mereka disetir banget.

Lalu fenomena “Devi mendadak alim”. -_- Gue percaya kok sama yang namanya hidayah. Gue adalah salah satu orang yang mengalami itu. Tapi di novel ini, proses tranformasi Devi tidak semulus alur ceritanya. Proses hijrahnya sangat cepat. Seakan ada tangan ajaib yang menulis script religi di setiap narasinya, Devi berubah jadi ibu ibu penceramah tanpa bantuan siapa pun. Kalimat yang bergulir dari bibirnya itu seperti orang yang sudah mendapat liqo selama berhari-hari. Darimanakah keajaiban ini muncul? Hidayah. Iya anggap aja gitu. Biar gak pusing lu Nin. Wkwkwk.. 

Mereka bahkan bisa keluar-masuk Masjidil Haram, meliput Kabah membawa kamera SLR sesuka hati. Padahal aturannya, no camera. Tidak ada askar yang memperingati atau ada perizinan khusus. Lolos begitu saja.

Walau gue bilang alurnya mulus, tetep aja ada bagian yang gak fokus-ilang ditengah jalan-tau tau nongol lagi di akhir padahal dari tadi gak dibahas. Apa itu? Foto Pre Wedding. Sebenernya, momok utama Dimas-Devi ragu ambil job ini kan gara-gara mereka udah nyewa paket Pre Wedding, tapi akhirnya di cancel, mereka lebih milih mau foto Pre-Wedding di luar negeri.

Hal itu masih tetap berjalan dan sesuai visi misi ketika di Tembok Besar Cina. Sampe nyewa studio di Beijing lho wkwk.. Sayangnya pas di India, Perancis, dan lain-lain visi misi ini terlupakan. Kalau pun terlupakan karena mereka berantem, at least, dibahas kek di dalem narasi. Ini bener-bener kayak ilang dan lenyap ditelan bumi. Jadi? Kemana tuh niat awal mau foto pre wedding? Hmm -_-

Selain hal-hal tersebut, hampir di semua adegan ketika meliput dan jalan-jalan lebih mirip paste artikel dari website. Setau gue, mencari sumber dari website memang sah sah aja, tapi lebih bagus lagi kalau kita menuliskannya kembali sesuai kebutuhan cerita. Tidak langsung tempel paragraf per paragraf -_- Selain boring, pun tidak mendukung alur cerita. Perlu banget nyantumin harga paket pre wedding? Perlu banget nyantumin harga hotel? Bagian itu dihilangin toh, pembaca masih membayangkan suasana di lokasi itu.  Just like I said, setting disini bombastis tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Jadi kayak blog perjalanan wisata aja.

Masalah lainnya datang dari ‘bahasa’.  I talked about grammer. Gue cuma bisa berspekulasi itu gara-gara google translate. Wkwkwk.. Beberapa sampe bikin geleng-geleng karena simple past tense salah penempatan. Mungkin ada baiknya, tidak mengandalkan google translate karena you knowlah, grammer nya suka rada kacau. Wkwk..

Challenges terbesar dari novel ini sebenarnya bagaimana membangun persepsi yang sama dengan penulis lainnya (ini novel keroyokan) terutama dalam build character dan plot, serta penyelarasan POV (gue denger dari salah satu penulisnya, awalnya mereka menggunakan POV yang berbeda tapi akhirnya diselaraskan oleh satu orang). Wkwkwk daebak..  Beberapa plothole yang gue temuin di dalam cerita ini juga mungkin efek dari banyaknya kepala yang mengerjakan cerita ini.

Beberapa style penulis terasa perbedaannya di dalam novel ini. Di awal-awal, didominasi oleh banyak dialog, minim detail, cerita bergulir dengan cepat dan banyak spekulasi yang dituturkan oleh tokoh itu sendiri. Mendekati pertengahan dan akhir, seperti disodorkan wikipedia, banyak deskripsi lokasi, minim dialog dan kematangan pola pikir tokoh terlihat.

Layout novel ini bisa dikatakan, rapi ya. Cantik juga. Tapi gue merasa janggal dengan spasi antar paragraf. Karena biasanya tidak perlu membuat spasi before after antar paragraf di dalam novel. Jarak tabulasi di awal kalimat juga terlalu menjorok ke dalam. Dan.. typo. Sangat banyak typo. Wkwkwk.. Ya, anggaplah itu dosa penulis yang tidak bisa dihindari.

Diantara empat tokoh di dalam novel ini, gue paling suka dengan karakter Ivana sebenernya. Dia konsisten bawel dari awal sampe akhir, tapi agak ‘kehilangan identitas’ ketika di Arab. Efek pura-pura baikkah? Atau tidak ada space yang cukup untuk menggambarkan tabiat aslinya? Jangan-jangan penulis lupa dan keasyikan “menghijrahkan” karakter Devi ke jalan yang benar wkwkwk..

Karakter Devi paling ternyebelin. Bukan karena dia diciptakan untuk nyebelin, tapi aksi dan pola pikirnya yang gak konsisten itu lho. Katanya metropolitan-fashionable, tapi ngirit. Cemburuan, tapi pas berantem, Dimas di lupain. Pengen move on dari Rifky, malah digodain. Halaaah! Kalo ada yang bilang, cewek susah dimengerti. Nah ini.. Devi cocok banget. Wkwk..

Karakter Rifky ini sebenarnya vital. Tapi gue gak tau kenapa dia tenggelam dengan cepat setelah tidur bareng ama Devi. Gue bahkan gak inget dia mulai hilang di scene apa. Terakhir, dia buang-buang duit terbang ke Mesir cuma buat diskusi ama Ivana, abis itu gak nongol lagi sampe di pernikahan Dimas-Devi. Kasian Rifky, ternyata dia dipakai sesaat saja. Wkwkwk..

Karakter Dimas awalnya so annoying di mata gue. Posesif ke Devi, kaburan, gak bertanggung jawab, dan kurang kerjaan (inget nyamar jadi orang timur tengah dan mau bantu Devi jadi editor cerpen -_-). Tapi dia diselamatkan berkat konsisten sikap sok acuhnya dan ‘agak’ dewasa pas di akhir cerita.

Bicara soal genre. Gue juga bingung ini sebenernya novel romance-religi atau gimana. Diawal, kesannya ini novel romance biasa, tapi menengah ke akhir, mendadak narasinya jadi religius banget. Bener-bener langsung banting setir ke novel religi. Kalau memang niat dari awal membuat romance-religi, lebih baik konsisten dari awal. Kalau prinsipnya cuma mau bikin tokoh utama “tobat”, gue rasa gak perlu menghijrahkan Devi sampe sejauh itu. Sampe akhir, gue masih bertanya-tanya, ini sebenernya novel religi atau bukan sih? 

Oke, kesimpulannya, cerita ini dibuka dengan cepat, langsung ke inti, tapi masuk ke konfliknya slow banget dan diakhiri dengan sangat cepat. Banyak bagian setting terbuang sia-sia, hanya diisi dialog/penjelasan ala wikipedia padahal harusnya bisa dimanfaatkan buat hal lain. Banyak adegan yang dipaksa harus terjadi dan menurut gue build characternya masih kurang konsisten. Konfliknya pun sederhana banget.

Tapi kelebihannya, novel ini punya setting lokasi yang bervariasi (sedikit menghiburlah kalau pembaca mulai kesel ngeliat tingkah-tingkah tokohnya), dan semakin kebelakang penuturannya lebih lancar dan gak separah di awal-pertengahan lompat-lompatnya. Chemistry antara Ivana dan Devi pun terbangun baik, even better than Dimas-Devi.

Novel ini tetep worth it buat jadi bacaan ringan, tapi gak bakal sampe nyentuh ke hati. Menghibur ketika yang kalian cari terutama tentang perjalanan keliling ke tujuh keajaiban dunianya.  Oh ya, gue ngereview novel ini semata karena gue penulis yang punya beban ngeremake novel ini ya. Wkwkwk.. Gue berjuang keras memperbaiki kejanggalan-kejanggalan yang di review di atas, sekiranya masih belum memuaskan, berarti gue harus bekerja lebih keras lagi. Hahaha..

Last but not least, ini penampakan cover versi remake nya..

cover 1

Cinta di 7 Kejaiban Dunia (remake version)

See ya! ^_^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 16, 2017 in Hobi, Lomba, Novel, Review, Romance

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: