RSS

Review Novel “Rindu Mantan” – Ariny NH (2017)

01 Feb

Selamat sore semuanya! Hari ini gue akan kembali mereview novel lagi. Jadi, siapkan suplemen kalian karena review ini cukup panjang. Wkwkwk..

102819_f

Rindu Mantan (Ariny NH)

Info seputar buku

Penulis : Ariny NH
Editor : Reni S
Penyunting : Zahra
Desain sampul dan tata letak : Sunny
Penerbit : Cahaya Fiksi
Cetakan 1 2017

Akhirnya setelah muter-muter Gramedia di Lampung, Jakarta sampai Bogor, gue berhasil menemukan novel ini di Kediri. Perjuangan yang cukup panjang mengingat buku ini memang sudah terbit dari tahun lalu, tapi baru sekarang gue nyarinya, makanya susah nemunya. Oke, ini bukan buku pertama mbak Ariny yang gue review. Mengambil waktu pembuatan setahun lebih setelah Cinta di 7 Keajaiban Dunia versi lama, tentu gue berekspetasi lebih terhadap isi cerita kali ini. Apalagi, novel ini murni ditulis sendiri oleh mbak Ariny, bukan keroyokan kayak yang sebelumnya gue review. Oke langsung aja.

Pertama kover. Gue mengacungkan jempol buat si pembuat sampul. Alasannya, dia bikin warna dominasi kover yang eyecathing banget. Bisa lo itung deh di Gramed berapa banyak buku berkover kuning mencolok kayak gini. Jarang banget, judulnya pun ditulis besar dan jelas, cukup menarik perhatian banyak ABG. Pernah tahun lalu (beneran ini), pas lagi di Gramedia Botani Square Bogor, gue lagi milih-milih buku Sherlock Holmes, dimana raknya bersebarangan dengan buku romance. Disana, ada buku Rindu Mantan. Lalu sekelompok anak ABG datang dan ada yang mengambil buku itu, salah satu dari mereka nyeletuk, “Eh, rindu mantan, kayak lo, hahahah!” Dan buku itu pun berakhir di kasir, di beli salah satu ABG itu.

Yang mau gue bilang, judul novel ini memang cocok buat pasaran remaja, singkat, simpel, tapi ngena di pasar. Tidak ada masalah di kover depan. Balik ke bagian sampul belakang, sinopsis. Gue gak pernah keberatan dengan sinopsis panjang, atau pun pendek, selama itu gak berlebihan mengupas isi cerita.

Sinopsis Rindu Mantan sejujurnya menguak 75% isi cerita. Otomatis, orang-orang udah tau apa yang akan terjadi di dalam novel ini. Padahal menurut gue sinopsis cukup sampai dia memutuskan menaklukan hati Ariendra. Udah. Stop sampai disitu. Mengingat novel ini pun tipis dan tidak ada banyak kejutan lagi di dalamnya, menguak sebagian besar plot tentu mengurangi rasa penasaran pembaca. Gue pun udah bisa nebak berbagai kemungkinan maksud terselubung si Ariendra, keselnya, salah satu tebakan gue bener. Wkwkwk..

Kedua, layout. Tiap penerbit memang punya gaya layoutnya masing-masing. Tapi jujur aja, untuk layout buku RM dengan spasi before-after antar paragraf atau tiap dialog itu rasanya ganjal. Apalagi keliatan banget ini kayak cuma copy paste dan gak dirapiin lagi, kayak di halaman 51. Lirik lagu belom abis, tapi dispasi dan dibawahnya ada paragraf narasi, tapi lupa di enter, jadi nyambung antara lirik dan paragraf narasi. Ini kan keliatan banget.

Masuk ke dalam cerita. Di halaman 2 kalian langsung menemukan typo. Untuk selanjutnya tiap ada typo gue abaikan karena bisa dibilang ini emang ‘bawaan’ si penulisnya. Tapi yang gak bisa gue terima, memang editornya gak nangkep ya ada typo sejelas itu? Berulang-ulang pula. Untungnya, typo gak mengganggu makna kalimat, jadi ya, gue masih bisa lancar mencerna cerita tanpa harus kesandung typo.

Selanjutnya ke karakterisasi. Inget Devi Cinta di 7 Keajaiban Dunia? Yap, ini versi mudanya yang lebih haus ‘kebutuhan’ pacar. Wkwkwk.. Kenapa gue bilang versi muda? Well, they are feel similiar, but different persons. Style berpatokan gaya Syahrini tapi kebanting ama kepribadiannya yang suka diskonan. Orang kaya yang takjub dengan kekayaan orang lain, padahal dia lebih kaya (adegan pas dia pertama kali main ke rumah Reyzandi).

Setelah disisihkan, ada empat karakter utama disini : Mikaila, Ariendra, Silvana, Reyzandi. Mikaila alias Akai (bukan Akai Mobile Legend, sumpah gue kebayang muka Akai ML tiap ada yang nyebut “Akai”, “Akai”, di novel ini).

Akai-1-1

Akai di dalam benak gue wkwk

Childish, playgirl kelas berat, dan kata penulisnya memang sengaja disetting rada oon. Pantes kuliah sampe lima tahun gak lulus-lulus. Kerjaannya nyari pacar mulu. Ini kayaknya cocok kalo dijodohin sama Jemi di novel DO yang kuliah 13 semester gak lulus-lulus karena ngejer mahasiswi cakep mulu.

Gue pengen standing applause ke penulis karena telah sukses menciptakan karakter yang bikin pembaca darah tinggi dan pengen nampol karakter utamanya sendiri. Kesel atas ke-oon-nnya, gak tahu malu, gak tahu diri, dan gampangan banget. Mengutip kalimat di film Cin(T)a, “Hukum Newton I : Kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran”, sangat berlaku buat si Mikaila. Kalo ada yang nanya, “memang ada ya orang yang jenis kayak Mikaila ini?” Agak di luar nalar, tapi memang ada. Gue sendiri punya beberapa temen yang sifatnya 11-12 kayak Mikaila. Bahasa keren gue adalah, over-self-confident. Ngumpulin pacar, udah pada diputusin, dikumpulin lagi dan dengan pede sejuta langit ngarep balikan sama orang yang pernah dia manfaatin/sakitin, agresif pula. Believe me, those people are real exist.

Selain itu ada beberapa karakter sampingan macam Aqillah (adek Mikaila), setumpuk mantan-mantan Mikaila yang sedikit di mention, cowok-cowok yang digebet, sampe kehadiran mamang bakso yang gak penting banget.

Mumpung masih bahas karakterisasi, gue sebenernya ngerasain ini sejak baca Cinta di 7 Kejaiaban Dunia versi lama. Bahwa, perbedaan antar satu karakter dengan karakter lain itu secara mental dan dialog sulit dibedain. Okelah, secara fisik di deskripsikan dengan jelas, tapi pola pikirnya, penuturan dialognya, tingkah polanya, sebagian besar seragam. Sebut aja Ariendra sama Reyzandi yang somehow gak ada sifat khusus yang menonjol dari keduanya. Mikaila memang tampil menonjol, tapi bagaimana dengan karakter lainnya? Nope. Flat banget (dalam artian gak ada yang ‘khas’ dari mereka).

Apalagi penulis menggunakan POV 1, seharusnya karakter tiap tokoh justru bisa di ekspresikan lebih jelas. Termasuk sifat menonjol mereka masing-masing. Kelemahan dari pemakaian POV 1 tanpa disertai pembangunan karakter yang ‘berbeda’, justru malah bikin sifat antar satu tokoh dengant tokoh lainnya jadi blunder alias susah dibedain.

Selanjutnya, plot/alur. Kita sudah bisa menyimpulkan 75% apa yang akan terjadi di cerita ini dari sinopsis. Pertanyaan di sinopsis langsung terjawab di prolog. Oke, alur udah ketebak 80%. Tinggal pemecahan dan twist ending yang diharapkan. Seperti biasa, alur mulus, tapi kesandung di bab “Usahaku Membuahkan Hasil”. Setengah bab ini udah ada di prolog, kenapa coba ditulis ulang. Ya semisal mau menggmbarkan situasi yang serupa, mending dirangkai dengan kalimat beda tapi maknanya sama.

Bukan cuma sekali pengulangan itu terjadi. Banyak banget dialog mau pun narasi yang diulang-ulang. Di dialog udah disebutin apa, di narasi di ulang lagi. Kalimatnya sama persis pula. Contohnya ada di halaman 58 dan 59. At least, bermainlah dengan kata-kata, atau bahasa kerennya “paraphrase kalimat”.

Gue pun kadang terganggu banget sama deskripsi gak penting. Boros kalimat. Mau bales telepon aja sampe di deskripsiin mulai dari nyari hpnya, klik icon hijau, begitu juga sama pas kayak mau chat BBM. Detail banget, tapi gak penting. Everyone know how to use it! Kenapa gak pake buat deksripsi lokasi, fisik, atau apa pun yang lebih mendongkrak membangun feel daripada nyatumin deskripsi “nasi rawon”.  Gue nyebut foie grass disini, haruskah gue deskripsiin itu makanan apa? Well, people don’t care, especially caused it’s not related with story at all.

Alurnya pun tergolong cepet, termasuk penyelesaian konfliknya yang hanya 1 bab dari sekian banyak bab. Padahal melihat potensi premisnya (again), ada banyak hal yang bisa digali untuk ngembangin plot. Maksudnya, terlalu dangkal aja cara-caranya PDKT ke Ariendra, terlalu mainstream, dan kurang ‘fresh’ menurut gue. Ajaib iya, tapi malah bikin kening gue berkerut.

Untuk mempersingkat, gue list aja :

  1. Gue emang di atas bilang ada ‘manusia’ gak tau malu, agresif ngejer cowok dan rada oon kayak Mikaila. Tapiii, gak gitu juga keles. Pas tau mantannya ada yang ganteng, langsung serobot datengin rumah sahabatnya, nanya tipe cewek kesukannya dan pulang. Bro, orang mau PDKT pastinya gak cuma nanyain itu, mulai dari rumah, keadaannya sekarang, gimana setelah dia lulus, itu semua pasti dikorek infonya. Bahasa keren gue adalah, penuturan dan nalarnya kurang
  2. Settingan banget. Pas adegan si Mikaila gak sengaja denger kejujuran Ariendra mau manfaatin dia, seriously, ketidaksengajaan macam itu settingan banget. Kenapa gue bilang settingan? Silvana mau ke rumah pacarnya, minta barengan ama Mikaila? Buat apaan? Toh selama ini dia sering ke rumah Rey sendirian (kan dlu Mikaila gak tau mereka pacaran). Jadi, keliatan banget, penulis mencari cara supaya Mikaila bisa ke rumah Rey dan gak sengaja menguping pembicaraan itu.
  3. Gue paling kesel ketemu logika sinetronisme. Keselnya lagi, ketemu di twist ending ala sinetron. Kalian mungkin pernah liat adegan di sinetron, orang ketabrak mobil langsung lupa ingatan, di opname di ICU tapi isinya cuma ranjang, EKG dan infusan doang. Itu yang gue maksud dengan logika sinetronisme. Dan gue temuin ini di ending. Halaman 165, dibilang, kepala Mikaila diperban. Kesimpulan : dia ketembak di kepala. Dan koma (?) Seriously? Koma? Keserempet kali pelurunya, hahahaa.. gile aja, peluru nembus kepala pecah tuh batok kepala. -_- Bukan cuma itu. Di halaman selanjutnya, Mikaila bilang gini, “aku pakai baju anti peluru”. Gue ngakak. Twist ending : failed. Jadi dia sebenernya ketembak di mana sih??? Ketembak di badan kok kepala diperban?? Ah, sudahlah.
  4. Gak bisa naik motor, tapi di bab selanjutnya, naik motor balapan dan mendadak jago karate. Sebenernya penulis udah klarif sih, soal ini bakal di jelasin di sekuel novelnya, ya tetep aja! Hahaa.. kan gue lagi review prekuelnya yang gak sedikit pun mention tentang trauma motor itu.
  5. Ariendra diculik di kawasan perumahan elit. Gimana caranya? Ada mobil mencurigakan, gak ada yang nyadarkah? Oke, itu sebenernya possible aja, tapi menurut gue, kurang penjelasan detail aja terkait situasi lapangnya. Jadi gue mencoba reka adegan sendiri di kepala. Wkwk..
  6. Mikaila muncul bak superherowati, menghadang peluru di sebuah ruangan tertutup rapat. Gimana caranya??? Tuh rumah rentenir gak ada yang jaga apa? Cewek bisa masuk kesana dan lompat menghadang peluru? -_-
  7. Halaman 159. Reaksinya gak wajar banget. Apalagi itu cowok. Plis, cowok dan cewek punya reaksi yang beda. Bahkan, didalam situasi kayak gitu, alih-alih nangis, orang pasti cenderung panik dan tertekan, tapi gak sampe nangis.
  8. Seminggu setelah kejadian penculikan, mereka berdua nikah. Pertanyaan gue disini : Mikaila belom lulus, dan dia nikah? Jangan bilang penulisnya lupa kalo Mikaila belom lulus dan dinikahin gitu aja. -_- Ada banyak hal yang dibahas di depan, tapi yang diklarifikasi cuma nikahan mereka doang.

Selain kedelapan hal tersebut, ada beberapa hal lain kayak misalnya footage gak jelas di halaman 21. Jujur, gue gak tau itu entah puisi atau lirik lagu. Kalo pun salah satu dari itu, gue pengen nyalahin layouternya sih.. wkwk.. Semisal itu puisi, penempatannya di rapiin kek.

Selain itu, sifat karakter disini suka tiba-tiba “melompat”. Kayak pas di awal, Ariendra ini ilfil di agresifin sama Mikaila, bahkan masih nyimpen dendam pula, tapi sekonyong-konyong kemudian gak rela dia di jadiin istri ke empat rentenir, sampe rela mati segala. Maksud gue, segala perubahan bentuk ‘rasa’ itu, at least, di narasikan dengan fluency. Jadi gak tiba-tiba, “lah, ni orang tiba-tiba main heroik aja mau mati demi cewek yang dia dendamin.”

Hal lainnya adalah jumlah halaman yang terlalu sedikit. Ada banyak hal yang bisa digali lebih dalam, kayak narasi perasaan tiap tokoh (jadi gak melulu dialog), pembangunan konflik, penyelesaian yang lebih logis, mau pun mengembangkan cara PDKT nya lebih fluency lagi, dan itu semua butuh penambahan halaman.

Terakhir, novel ini memang punya penggalian karakter tokoh utama dengan motivasi mendapatkan mantan yang luar biasa kuat. Yep, they got the point. Gue termasuk cepet baca novel ini, bukan karena dipaksa penulisnya buat cepet ngekelarin, tapi memang karena alurnya enak diikuti (walau kadang kesandung logika). Berhubung stoknya mulai terbatas di Gramedia, gue saranin kalian yang mau nyari buku ini, buruan cari sekarang, sebelom makin langka. Wkwkwk…

Oke, itu aja review dari gue. Semoga kedepannya penulis bisa melahirkan karya-karya yang much better than this! Caused, I enjoyed it, and everything I said was presented for all of us.  

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2018 in Novel, Review

 

2 responses to “Review Novel “Rindu Mantan” – Ariny NH (2017)

  1. Ariny nh

    Februari 1, 2018 at 9:48 am

    10. Mikaila capek kuliah gak lulus2 jadi nikah aja. Lagian cewek gak masalah nikah sambil kuliah? Wkwkwk

     
    • Rin Lawliet

      Mei 14, 2018 at 4:51 pm

      Wah masalah lah kalo cowoknya gak tajir hahaha

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: