RSS
Gambar

[Review Film] 212 : The Power of Love

08 Mei

~Spoiler alert!~

Sejak awal pemberitaan bahwa katanya aksi 212 akan dibuatkan filmnya, banyak berbagai spekulasi muncul di kalangan netizen. Ada yang mengatakan film itu akan berbau politik, ada yang mengatakan bakal tidak laku, berupa dokumenter, sampai dugaan bahwa film tersebut dibuat untuk kepentingan golongan tertentu.

Saya sudah menyaksikan filmnya dan saya harap review ini bisa memberikan gambaran tentang film tersebut sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang dilontarkan oleh para netizen.

212 The Power of Love,  dibesut oleh Sutrada Jastis Arimba. Film ini dinaungi oleh Warna Picturse dan naskahnya ditulis oleh Ali Eounia dengan supervisi Helvy Tiana Rosa.

5ae85e221bb3e-film-212-the-power-of-love-usung-konsep-persatuan_665_374

Press Conference Gala Premiere, 1st May 2018

Di awal cerita, kita akan diperkenalkan tokoh utama, Rahmat (Fauzi Baadila). Jurnalis idealis yang kerap menulis berita kontroversi terkait aksi 411. Rahmat tampak selalu sendirian, sinis, dan arogan, bahkan Adhi (Adhin Abdul Hakim) si radikalis romantis –teman satu-satunya Rahmat di media Republik mengira kalau Rahmat tidak mempunyai keluarga lagi. Sampai Ia mendengar berita kematian ibunya, Rahmat pun memutuskan untuk pulang ke kampungnya di Ciamis.

30855645_231586264256504_1695020298044178432_n

Rahmat menahan emosi

Ternyata hubungan Rahmat dan ayahnya, Ki Zainal (Humaidi Abas) tidak baik. Mereka kerap berselisih paham dan saling melempar sindiran satu sama lain. Ki Zainal adalah ustadz yang disegani di kampungnya, maka ketika ajakan longmarch menuju aksi 212 di Monas, Ia pun semangat mengikuti kegiatan tersebut, namun, Rahmat tidak setuju. Menurut Rahmat aksi 212 yang diadakan di Monas akan dimanfaatkan oleh aktor-aktor politik, sementara ayahnya pun kesehatannya memburuk dan dia tidak mau ayahnya membuang-buang waktu dan tenaga untuk ikut aksi tersebut.

Adik Yusna (Meyda Safira) yang diperankan oleh Hamas Syahid pun dari awal menunjukkan gelagat tidak suka pada Rahmat. Terlebih setelah ia tidak sengaja mendengar percakapan Rahmat dan teman jurnalisnya yang diperankan Echie Yiexcel, bahwa ia berniat membubarkan rombongan yang sedang longmarch tersebut.

Tetapi Rahmat akhirnya terus mengikuti longmarch, ia tidak bosan mengajak Ki Zainal agar pulang saja kerumah. Rahmat selalu menawari Ki Zainal untuk naik mobil, tapi ayahnya kekeuh untuk melanjutkan jalan kaki.

Hingga akhirnya sampai di Monas, Rahmat perlahan luluh dan akhirnya berbaikan dengan ayahnya, kesalahpahaman antar keduanya pun terselesaikan.

Oke, kurang lebih jalan ceritanya seperti itu.

Sebelum menonton film ini, ekspetasi orang awam seperti aku dan mungkin netizen lain, well, film ini pasti 212 banget. Maksudnya, bakal menyorot aksi habis-habisan, orasi tokoh-tokohnya, dan lain sebagainya. Itu bayangan pertamaku.

Dugaanku salah. Film ini malah tidak tampak seperti menceritakan aksi 212. Settingnya, iya, memang menggunakan saat aksi 212. Tapi untuk inti ceritanya sendiri justru bukan ke 212 tapi ke hubungan ayah dan anak. Keluarga. Itu poin utama yang paling aku rasakan sampai keluar dari bioskop.

Aku suka pengambilan sinemtografi di film ini. Menggunakan drone, tampak rapi dan bisa mengambil gambar yang pas untuk membangun feel. Tapi ada juga yang fail seperti menyatukan scene dengan greenscreen yang potongannya tampak kasar dan terlihat banget. Itu cukup mengganggu.

Ya, kukira tentu membutuhkan budget lebih jika harus membangun suasana yang real pada situasi tersebut, sehingga akhirnya menyatukan potongan dokumenter dengan scene yang diedit sedemikian rupa.

Selanjutnya adalah karakter. Memilih Fauzi Baadila sebagai Rahmat adalah pilihan yang tepat menurutku. Wajahnya bisa menggambarkan sosok yang sinis dan arogan sepanjang film, well, itu bagus. Didukung oleh akting Adhin yang somehow tanpa perlu repot-repot ngelucu, tiap kemunculannya memang berhasil mencairkan suasana. Entah itu suasana tegang, sampai krik-krik. Tapi, yang paling aku suka adalah chemistry antara Fauzy dan Humaidi Abas yang sangat match memerankan anak dan ayah yang keras kepala satu sama lain, sehingga hubungan keduanya benar-benar nampak canggung satu sama lain. Pemeran pendukung yang hadir seperti Asma Nadia dan Fajar Lubis pun memainkan porsinya dengan baik.

fauzi-baadila_20170527_155608

80% ekspresi Fauzi Baadila sepanjang film wkwk

Sayangnya, disaat bersamaan, film ini juga tampak mubazir menggunakan artis/tokoh yang ujungnya hanya numpang lewat muncul, tapi tanpa kehadirannya pun toh sebenarnya cerita masih bisa berjalan dengan baik. Seperti Oky Setiana Dewi yang ketika pembacaan puisi, tiba-tiba wujudnya muncul dengan CGI langit, kan aku kaget. Kalau mau ambil suaranya ya cukup suaranya, kenapa tiba-tiba ada klip raga berlatarkan langit biru?

Diawal film, dialog tampak kaku, apalagi ketika scene rapat dengan Pimred. Dialog yang dibawakan Echie tidak natural, juga ketika Rony Dozer sang pimred mengadakan rapat, reaksi bawahannya flat banget. Tidak ada timbal balik untuk berusaha menghidupkan suasana. Untungnya, kekauan itu hanya berada di awal. Lambat laun dialog makin lancar mengalir, terlebih setelah pertemuan ayah anak, ada chemistry yang terbangun dan lain-lain. Paruh belakang film ini pun mulai membaik.

Tersandung oleh hal yang serupa dengan film religi kebanyakan, film ini sarat akan nasehat dan petuah yang dikutipkan langsung. Jadi, siap-siap di paruh awal sampai tengah ada begitu banyak ceramah yang tersebar.

Tidak ada plot twist di film ini, aku yakin penikmat drama/film pasti bisa menebak klimaks film ini seperti apa. Apalagi sebelum scene solat Jumat berjamaah dibawah hujan, Ki Zainal batuk-batuk hebat dan sempat jatuh di kamar mandi. Hmm..

Alur ceritanya sebenarnya cenderung tidak fokus. Seperti yang kubilang, awalnya film ini mau mengangkat isu 411 mau pun 212 yang dikatakan ditunggangi oleh politik, tetapi akhirnya sampai film ini selesai tidak ada hal baru yang diceritakan. Kita tahu dalam aksi 212 itu ada massa kurang lebih 7 juta yang berkumpul, kita tahu disana umat menjalankan solat Jumat berjamaah dibawah hujan, kita tahu banyak yang ikhlas membagikan dagangannya kepada para peserta aksi, kita juga tahu aksi tersebut tidak menghalangi umat agama lain yang sedang beribadah. Itu semua sudah diberitakan di media, dan difilm diputar kembali, jadi tidak ada yang baru.

Alih-alih membahas isu yang dikabarkan miring tersebut, film lalu berganti fokus ke ayah dan anak dan drama didalamnya. Itu yang paling melekat sampai akhir cerita.

Pesan “Islam itu damai” paling mengena di adegan ketika Rahmat baru sampai di Monas, ia serta merta dikepung oleh orang-orang yang mengancam mau memukulnya. Lalu Yusna datang dan berkata, “Dia itu Islam, dia bersikap anti karena tidak tahu Islam. Lantas karena itu apa kita berhak mengkafirkan dan menghakimi dia?” Adegan ini seakan memukul balik kejadian-kejadian pahit yang Rahmat alami karena tulisan yang dibuatnya di media.

Film ini baru benar-benar menunjukkan potensinya di paruh akhir. Ketika pertengkaran ayah dan anak itu memuncak dan saling melontarkan kesalahan satu sama lain, lalu scene ketika usai solat Jumat, dan ‘harta’ sang ayah yang disimpan di lemari, menurutku itu adalah bagian terbaik di film yang menjadikan film ini layak disaksikan bersama keluarga.

Terlepas dari tujuan film ini untuk meluruskan aksi 212 (kata sutradara Jastis saat Press Conference), film ini justru menghadirkan sajian keluarga yang mengena banget. Terutama di era milenial sekarang. Ide ceritanya sederhana, tapi itu memang terjadi di masyarakat. Seorang ayah, dia kyai, disegani oleh santri dan jamaah, tetapi disisi lain punya seorang anak dengan pandangan yang berbeda dan prinsip yang lebih bebas.

Orang tua dan anak sama-sama keras, tetapi sebenarnya saling mengkhawatirkan satu sama lain. Saling memerhatikan tapi tertahan oleh ego masing-masing. Pada akhirnya kekuatan kasih sayang dan kepedulian itu yang menang. Well, Itu adalah kenyataan di kehidupan sehari-hari yang berhasil diinterpretasikan oleh film ini.

adegan-di-film-212-the-power-of-love-_180412155156-696

Seperti kata Mbak Asma, “ini buka dari kita, tapi Allah Yang Maha Besar”

Diawali oleh pembukaan yang kaku dan isu miring aksi 212, tetapi pada akhirnya film ini menjadi drama keluarga sambil meyakinkan Rahmat bahwa Islam itu Damai dan aksi 212 menjadi setting latar di belakangnya. Tetapi, Inti cerita ini adalah cinta seorang ayah ke anak. Maka, daripada judulnya 212 : The Power of Love, menurutku lebih baik judulnya “Father : The Power of Love”. Hehe.. just my opinion.

Last but not least, film ini layak disaksikan bersama keluarga maupun teman. Tentu, bagi mereka yang ingin mengenang masa-masa aksi 212 juga, film ini dapat mengembalikan memori pada saat itu. Selamat menikmati.

31968036_2161746713842768_5852303440889249792_n

212 The Power of Love
Buku Republika
#review212 #putihkanbioskop

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 8, 2018 in Film, Review

 

4 responses to “[Review Film] 212 : The Power of Love

  1. firstymolyndi

    Mei 13, 2018 at 11:46 am

    Filmnya bagus banget ya menawarkan sisi Islam yang ramah, tulus dan mudah memaafkan.

     
    • Rin Lawliet

      Mei 14, 2018 at 4:49 pm

      harusnya justru umat muslim yang banyak menonton film ini, agar dari Islamnya sendiri bersatu, tidak tercerai berai

       
      • MARYAM

        Mei 31, 2018 at 1:32 pm

        ceritanya mirip sama filmnya Robert Downey The judge 2014

         
      • Rin Lawliet

        Juni 11, 2018 at 12:55 pm

        Intinya sama, tapi saya tidak yakin mereka terinspirasi dari film itu

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: